Ibnu Hajar Al Asqalani dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir. Nama sebenar beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan jolokan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar bererti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.
Suatu ketika, saat beliau masih belajar di sebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang lembab, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat.
Beliau memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya itu, hujan tiba2 turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh di dalam sebuah gua. Ketika berada di dalam gua pandangannya tertuju pada sebuah titisan air yang menitis sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, beliau takjub hairan. Melihat kejadian itu beliau merenung, bagaimana mungkin batu itu mampu dilubangi hanya dengan titisan air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, beliau sedar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras pun boleh dilubangi oleh tetesan air apalagi kepala ku yang tak sekeras batu. Jadi kepalaku ini tentu boleh menyerap segala pelajaran jika disusuli dengan ketekunan, rajin dan sabar, InsyaAllah.
Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid di sekolah itu.
Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan beliau sendiri muncul menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal kita seperti Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain. Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Arakian dari peristiwa itu, beliau dikenali sebagai si anak batu.
Semoga kisah ini memberi motivasi kepada kita semua. InsyaAllah.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia sendirilah yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ).
No comments:
Post a Comment